yun3 blog

Just another WordPress.com weblog

guitar

Rangkuman ini adalah semacam preview atau teaser untuk menggugah rasa ingin tahu Anda. Sembari menunggu artikelnya ditulis oleh individu GF yang lebih netral, insecure, jaim (kalau tidak bisa dibilang hipokrit), dan santun, ayo kita download dan dengarkan klip berdurasi 1,5 menit dari Faisal dibawah ini. Satu penjelasan klip ini: KICK BUTT!!!

Saat artikel ini ditulis, para pemerhati gitar dan musik di Indonesia dan di luar negeri mungkin telah membentuk suatu persepsi yang menyimpang tentang Guitar Forum, tepatnya bila mereka telah membaca artikel di majalah Kort baru-baru ini.

Artikel yang mengacu pada Topaz sebagai narasumber tersebut memuat informasi-informasi yang tidak tepat mengenai GF – dan sialnya, informasi tersebut bersifat vital.

Topaz sendiri telah mengirimkan email kepada perwakilan majalah Kort perihal kesalahan (kalau tidak bisa dibilang ketololan) dari sang penulis.

Beberapa diantara yang tidak tepat adalah, informasi mengenai konsep yang mendasari lahirnya GF, nama pendiri GF, dan orang-orang yang berinteraksi di GF. Kesalahan-kesalahan tersebut terdapat di paragraf 1, 2, dan 9 dari artikel tersebut.

Berhubung waktu saya tidak banyak untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan ini, dan mengingat beberapa urusan lain yang lebih penting daripada mengurusi kesalahan majalah Kort, oleh sebab itu saya menghimbau kepada rekan-rekan GF dan pengunjung situs web ini untuk membaca sendiri artikel lengkapnya di majalah tersebut.

Artikel ini membahas dasar-dasar scale yang merupakan pengetahuan dasar dan utama untuk memahami logika dibalik berbagai jenis scale (mayor maupun minor) mode (Dorian, Myxolidian, Aeolian, Lydian) dan chord.

Musik populer yang kita dengar sekarang baik pop, jazz, blues, rock, country, dangdut, maupun hip hop, dibentuk dari tangga nada atau scale.

Scale adalah serangkaian nada yang disusun berdasarkan jarak-jarak tertentu atau interval yang diukur dalam satuan langkah (step). Besar interval antara satu not dan lainnya adalah satu atau setengah step. Di fretboard gitar, setengah step sama dengan jarak dari satu fret ke fret disebelahnya. Di piano setengah step sama dengan jarak dari satu tuts (entah hitam atau putih) ke tuts disebelahnya.

Scale yang lazim kita dengar dalam musik populer sehari-hari adalah diatonic scale yang terdiri dari 12 nada yaitu:

C
C# (atau Db)
D
D# (atau Eb)
E
F
F# (atau Gb)
G
G# (atau Ab)
A
A# (atau Bb)
B

Diatonic scale dibagi dua yaitu scale mayor dan scale minor. Pada dasarnya mayor dan minor menggambarkan mood atau nuansa yang dihadirkan dari scale tersebut. Scale mayor bernuansa gembira atau ceria, sedangkan scale minor menghadirkan suasana sedih atau suram.

Beberapa lagu yang disusun dari scale mayor (dan tentunya bernuansa cenderung ceria) adalah lagu-lagu boy band seperti Backstreet Boys dan Westlife; serta kebanyakan lagu-lagu Bon Jovi (“These Days”, “Never Say Goodbye”, “Bed of Roses”, “Always”).

Sedangkan lagu-lagu bernuansa minor biasa dimainkan Yngwie Malmsteen (“Black Star”, “Far Beyond the Sun”, “Demon Driver”); Led Zeppelin (“Stairway to Heaven”, “Kashmir”), Gary Moore (“Still Got the Blues”), Metallica (“Master of Puppets”, “One”, “Enter Sandman”), dan tentunya Black Sabbath (“Iron Man”, “Paranoid”, “War Pigs”).

Selain oleh nuansa, kedua scale ini juga dibedakan oleh interval dari not-not yang membentuk scale yang bersangkutan. Dalam satuan step, interval scale mayor adalah:

1 – 1 – 1/2 – 1 – 1 – 1 – 1/2

Sedangkan interval scale minor adalah:

1 – 1/2 – 1 – 1 – 1/2 – 1- 1

Atas dasar pemahaman tersebut dapat disusun berbagai macam scale mayor maupun minor, misalnya C mayor (C D E F G A B C) atau A minor (A B C D E F G A). Mulailah dengan memainkan nada C di senar 5 di fret 3. Dengan mengikuti interval diatas, lanjutkan ke fret-fret yang lebih tinggi (fret 5, fret 7, dan seterusnya) untuk memainkan nada-nada selanjutnya.

Pembahasan yang lebih mendalam mengenai teori ini beserta aplikasinya akan dibahas di bagian selanjutnya.

Sebenarnya bila ada kemauan, semua orang yang biasa bermain gitar atau alat musik apa pun secara rutin, bisa menulis lagu. Artikel ini mengulas beberapa langkah awal dalam penulisan lagu, terutama instrumental. Dengan memahami dan mengikuti panduan sederhana ini, niscaya Anda akan dapat melahirkan karya cipta sendiri, entah untuk komersil atau untuk didengarkan sendiri.

1. Fuck the genre

Dengan menentukan terlebih dahulu jenis musik yang akan ditulis, Anda akan memagari kebebasan untuk berimajinasi. Dengan demikian, kreatifitas Anda otomatis akan terpangkas.

Lain hal bila musik yang ditulis untuk ilustrasi film atau iklan, yang tentunya harus menghadirkan suasana tertentu yang sejalan dengan film atau iklan yang bersangkutan.

Untuk pemula, lupakan dulu seperti apa nantinya lagu yang ditulis; biarkan dirimu bebas berimajinasi.

2. Rhythm is everything, well…almost

Kebanyakan lagu-lagu populer dari luar negeri dan lokal ditulis dengan chord progression yang tidak jauh berbeda satu sama lain, walaupun jenis musiknya tidak sama. Sebagai contoh, lagu Raja berjudul kalau tidak salah “Jujur”, memiliki chord progression ii-V-I yang merupakan bentuk dasar lagu-lagu jazz standar. Dengan kata lain, jika Anda bisa bersolo dengan lancar di lagu “Jujur”, mungkin Anda tidak akan mengalami kesulitan untuk ber-jam session lagu-lagu jazz klasik seperti “Fly Me to The Moon”.

Fenomena yang sama bisa ditemukan di 12-bar blues. Lagu “Independent” dari band speed metal Sacred Reich dimainkan di 12-bar blues standar, sama persis dengan “Call it Stormy Monday” atau “Red House”.

Walaupun lagu-lagu tersebut diatas berirama yang jauh berbeda – pop vs. jazz dan metal vs. blues – secara struktur mereka tidak berbeda, bahkan sama persis.

Jadi intinya, yang membedakan jenis lagu yang satu dengan yang lain adalah ritem-nya. Dengan demikian jika Anda ingin menjadikan lagu yang ditulis beraliran tertentu misalnya country atau reggae, yang harus diutak-atik adalah ritemnya, bukan melodi atau chord progression-nya.

3. To immitate is NOT a sin

Pada kenyataanya, virtuoso sekelas Joe Satriani pun juga ‘menyontek’. Dalam arti kata, gaya permainan Joe dipengaruhi oleh gaya permainan gitaris-gitaris yang didengarkannya atau lebih tepat lagi, dikaguminya; salah satunya Jimi Hendrix.

Bila musik yang Anda tulis pada akhirnya kedengaran mirip sekali dengan lagu Eddie Van Halen atau Korn atau artis lain yang musiknya Anda gemari, itu adalah hal yang tidak dapat dihindari.

Analoginya adalah, logat bicara seseorang yang pasti dipengaruhi oleh cara berbicara masyarakat di sekitarnya. Makanya gaya bicara masyarakat Jakarta berbeda dengan logat orang Palembang, misalnya.

Terpengaruh gaya si A bukan berarti kita menjadi fotokopinya si A atau tidak memiliki kepribadian, sebab keduanya adalah hal yang jauh berbeda tapi sayangnya sering disalahartikan.

Gitaris fotokopi adalah musisi yang melakukan segalanya untuk meniru habis-habisan gaya si gitaris yang dikaguminya. Contohnya adalah para Yngwie wanna-be yang mati-matian menjadi reinkarnasi Yngwie, sampai-sampai gaya berpakaiannya pun ditiru.

Sementara gitaris yang terpengaruh gaya gitaris lain adalah gitaris yang memainkan musiknya sendiri dengan caranya sendiri, namun dengan menghadirkan nuansa dari gaya si gitaris yang dikaguminya. Untuk jelasnya, coba dengarkan lagu Joe Satriani berjudul “Searching” dari album “Is There Love in Space?”. Pengaruh Jimi Hendri sangat jelas disitu.

 

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.